Sair Pertama
Pujian salam agung kepada Nabi Muhammad SAW...
Naskah D • Tradisi Klasik Gorontalo
Pujian salam agung kepada Nabi Muhammad SAW...
Dikili adalah tradisi pembacaan naskah sastra keagamaan klasik masyarakat Gorontalo dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diwariskan turun-temurun sejak abad ke-16/17 M. Naskah dilantunkan secara berirama (tagoni) semalam suntuk di masjid-masjid dan rumah ibadah adat.
Dalam penelitian lapangan di tiga kecamatan (Pulubala, Bone Bolango, dan Kota Selatan), peneliti menemukan empat naskah salinan:
Tebal 117 halaman, ukuran 21 x 16 cm. Kolofon tertanggal 15 Juni 1986 oleh penyalin A.D. Laya di Huangobotu. Menggunakan tinta hitam dan merah (merah untuk basmalah, salawat, dan jābu). Terdapat banyak pemenggalan kata dan kesalahan penyalinan ayat Al-Qur'an (seperti Surah Al-Fath: 2-3 dan At-Taubah: 128-129).
Tebal 121 halaman, ukuran 15 x 10 cm, 9 baris/halaman. Tidak memiliki kolofon sehingga tahun penulisan tidak diketahui pasti. Khusus terjemahan, hanya berbahasa Gorontalo (tidak ada bahasa Indonesia), beraksara Arab Pegon.
Tebal 119 halaman, ukuran 19 x 13 cm. Kolofon tertanggal 7 Rabiul Awwal 1415 H / 16 Agustus 1994. Ciri istimewa: Memiliki iluminasi kaligrafi unik berupa lafaz Basmalah yang dibentuk menyerupai seekor itik, dan lafaz Salawat menyerupai gambar pesawat terbang.
Tebal 188 halaman (185 hlm teks disunting), ukuran 20 x 14 cm. Memiliki dua kolofon: kolofon awal beraksara Latin (disalin 29 Maret 2003 / 1424 H di Desa Bakti) dan kolofon akhir beraksara Pegon (disalin 1999 M / 1419 H di Batu Layar).
| Pemilik / Koleksi | Mustapa Taha |
| Lokasi Asal | Desa Bakti Pulubala & Batu Layar |
| Aksara & Bahasa | Arab Hijaiyah, Arab Pegon (Gorontalo), Latin |
| Penyunting Riset | Dr. Ayuba Pantu & Dr. H. Muh. Arif (IAIN) |
Peneliti filologi menetapkan Naskah D sebagai landasan suntingan teks (textus receptus) karena:
Kata Jābu secara etimologis berasal dari bahasa Arab jawāb (jawaban/respons). Dalam tradisi Dikili, Jābu adalah untaian bait respons, puji-pujian sakral, permohonan tobat, dan syahadat ciptaan ulama leluhur Gorontalo yang diselipkan pada setiap jeda bait syair Arab.
Jābu dibacakan bersahut-sahutan oleh kelompok jamaah untuk menghidupkan suasana zikir komunal yang khusyuk dan megah.
Penelitian mencatat terdapat total 62 refrein Jābu dalam tradisi naskah Dikili:
Naskah Dikili ditulis menggunakan Aksara Arab Pegon (Arab Melayu) yang telah disesuaikan secara genius oleh ulama Gorontalo untuk melambangkan fonem-fonem lokal yang tidak terdapat dalam abjad Arab baku.
Dalam ortografi Arab standar hanya terdapat tiga tanda vokal: fathah (/a/), kasrah (/i/), dan dhammah (/u/). Namun bahasa Gorontalo memiliki vokal lokal /o/ dan /e/.
Untuk mengatasi keterbatasan ini, ulama Gorontalo menciptakan tanda syakal khusus berbentuk hamzah terbalik atau angka 2 miring:
*Temuan ini membuktikan bahwa ulama Gorontalo abad lampau memiliki kesadaran linguistik dan ketelitian fonologis yang sangat tinggi.
Kompilasi catatan kaki ilmiah peneliti yang mengupas makna kata arkaik, toponim geografis, dan varian teks naskah Dikili:
Penetapan jumlah 17 Sair ini didasarkan pada penuturan orang-orang tua yang tergolong ahli Dikili yang telah mentradisikan pembacaan 17 bab tematik Maulid.
Maraam (anak panah) adalah senjata perang populer masa silam. Dalam sair ini dimaknai secara kiasan sebagai sasaran/target dakwah Nabi SAW yang melumpuhkan musuh-musuhnya.
Di naskah tertulis al-'uṣāt (jamak dari al-'āṣī = orang yang durhaka). Di naskah lain tertulis al-usāt (jamak dari āsiyyu = tabib/pengobat duka kalbu).
Bahru selain lautan luas juga bermakna kuda pacu tangkas; mengiaskan kepribadian Nabi yang cerdas dan memudahkan orang lain, laksana samudra yang menyimpan simpanan kebajikan.
Al-gamāmah bermakna awan mendung pembawa keteduhan dari terik matahari safar padang pasir.
Tihāmah adalah kawasan pesisir dataran rendah di sebelah barat dan utara Mekkah.
Batūl adalah gelar kehormatan khusus bagi Sayyidah Fatimah az-Zahra putri tercinta Rasulullah SAW yang mencerminkan kesucian dan ketekunan ibadah.
Muhashshab adalah lembah peristirahatan di antara Mina dan Mekkah tempat jamaah haji singgah setelah melempar jumrah.
Al-Haramain merujuk pada dua kota suci utama umat Islam: Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah.
Catatan variasi terjemahan pada kalimat mā ra'at-hu wa mā qīla lahā wa mā umirat (apa yang disaksikan Halimah, dikatakan orang kepadanya, dan yang diperintahkan baginya).
Karya sastra sirah monumental 'Iqd al-Jawāhir karangan Sayyid Ja'far al-Barzanji (lahir di Madinah 1690 M, wafat 1766 M). Dikili Gorontalo berakar kuat dari tradisi pembacaan maulid ini.
Durratil-yatīmah bermakna mutiara tunggal tiada tara yang tak ternilai harganya, mengiaskan keagungan derajat Rasulullah SAW.
Al-ṭhāf bermakna sesuatu yang mengapung di permukaan air, mengiaskan bahtera keselamatan di tengah gelombang kehidupan.
Riset menyimpulkan bahwa naskah Dikili membuktikan adanya Jaringan Ulama (Scholarly Network) di Gorontalo yang terhubung aktif dengan simpul-simpul transmisi Islam di Nusantara (seperti Sulawesi Selatan, Banjar, Giri-Cirebon) dan Timur Tengah (Haramain).
Melalui jejaring ini, karya sastra Maulid seperti Barzanji dan Diba' diadaptasi secara kreatif menjadi tradisi Dikili yang khas Gorontalo.
Kesimpulan: Dikili adalah warisan kebudayaan Islam klasik Gorontalo yang memadukan sastra Arab, kearifan zikir lokal (Jābu), dan penulisan Arab Pegon berkarakter khas.
Saran: Mengingat naskah salinan tulisan tangan yang tersisa di masyarakat kian rentan rusak, dibutuhkan digitalisasi dan revitalisasi agar nilai-nilai luhur Maulid Dikili dapat diwarisi oleh generasi penerus.